Friday, February 15, 2013

Analisi Puisi Aku karya Chairil Anwar

Puisi yang berjudul Aku karya Chairil Anwar adalah puisi yang tak lekang oleh zaman, sejak saya SD kemudian SMP lalu SMA dan kuliah masih saja menyelip disela-sela kehidupan begitu melegendanya puisinya ini bahkan dibicarakan di angkringan-angkringan Yogyakarta dan event-event budaya.

Chairil Anwar lahir pada 26 Juli 1922 adalah penyair yang termasuk ke dalam Angkatan 1945. Diperkirakan, Chairil sudah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi pribadi. Dan salah satu karya yang cukup dikenal masyarakat luas adalah puisi yang berjudul "Aku" atau potongan yang sering kita dengar "puisi aku binatang jalang". Chairil Anwar meninggal pada 28 April 1949)

Dalam tulisan ini saya berusaha menganalisis makna dari puisi "Aku" karya Chairil Anwar berikut ini :


AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Analasis Puisi Aku karya Chairil Anwar

Bait pertama :
Kalau sampai waktuku 
'Ku mau tak seorang kan merayu 
Tidak juga kau

Bait itu bermakna bahwa kebulatan keyakinan pengarang yang sangat terhadap apa yang diyakininya, sehingga tak bisa dirayu siapapun. kata "kau" bisa menjadi seorang yang dekat atau bisa menjadi siapa saja. Bahkan merayupun tidak diinginkan oleh pengarang

Bait kedua :
Tak perlu sedu sedan itu 

Dalam bait yang satu baris itu sebenarnya penulis bukan bermaksud menghibur siapapun yang merayunya. Walaupun bernuansa menghibur sebenarnya hal itu bermaksud menegaskan bahwa dirayu dengan cara apapun entah sedih atau ekspresi melas penulis tak akan goyah.


Bait ketiga :
Aku ini binatang jalang 
Dari kumpulannya terbuang

Penulis semakin mempertegas keyakinannya dengan merendahkan hati bahwa ia bukan sesuatu yang peting untuk diurusi maka hendaknya tidak perlu dibujuk rayu karena hal itu akan sia-sia.

Bait empat dan kelima:
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri 

walau dalam keadaan apapun keyakinan penulis dan tekad penulis akan selalu dipengang erat dengan konsisten, walaupun dalam keadaan susah sekalipun.

Bait ke enam dan ke tujuh :
Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

dalam kedua bait itu nampak sebab dari apa yang membuat penulis dalam hal ini chairil anwar memiliki kekesalan terhadap sesuatu, menurut saya sendiri ia kesal kepada orang tuanya hal ini saya hubungkan dengan kehidupan penulis.

demikian yang dapat saya tuliskan dalam analisis puisi aku karya chairil Anwar, tentunya hal ini berdasar kesubjektifitasan saya dan hal itu sah sebab karya sastra berhak dimaknai apa saja ketika sampai ditangan pembaca. Salam budaya!